Penelitian di Tengah Pandemi




Selamat datang saya ucapkan untuk pembaca blog saya. Salam sehat untuk kita semua. 

Pertama-tama saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada para pembaca sekalian karena baru saat ini saya dapat menyempatkan diri untuk kembali menulis diblog pribadi saya ini. Telah lebih kurang dua tahun saya mangkir untuk menulis dikarenakan saya disibukkan dengan penulisan Tugas Akhir (TA) sebagai syarat untuk menyelesaikan studi magister saya. Pada tulisan ini akan saya ceritakan juga kejadian luar biasa dimana seluruh dunia sedang kewalahan dalam menghadapi pandemi penyakit (Corona Virus 2019). Kemungkinan ditulisan kali ini agak sedikit panjang karena mengingat banyak hal yang ingin saya ceritakan dan saya alami selama lebih kurang dua tahun ini.

Flashback sedikit ketahun 2019, saya ingin menceritakan perjalanan saya yang naik turun selama menyelesaikan tesis. Sekitar bulan Maret 2019, saya memulai perjalanan tesis saya. Sejak awal memulai studi S2, saya sangat tahu diri bahwa saya tidak memiliki cukup ilmu jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain. Proposal penelitian saya berkali-kali ditolak oleh dosen pembimbing kedua saya, hingga pada akhirnya dosen pembimbing pertama menawarkan saya untuk ikut dalam project beliau dimana tanaman yang harus saya tanam adalah tanaman tebu. Pada dasarnya saya tidak memiliki pengalaman sedikit pun dalam hal budidaya tanaman ini dan menurut saya inilah awal mula cerita saya dalam menyelesaikan tugas akhir. Pada bulan September 2019 saya akhirnya diizinkan untuk seminar proposal. Sebelumnya, saya mengetahui cerita kakak tingkat bahwa seminar proposal ini tidak semulus waktu S1 dulu. Ada beberapa kakak tingkat yang gagal dalam seminar proposal dan disarankan untuk mengulang. Ini menjadi ketakutan sendiri bagi saya mengingat saya tidak menguasai sama sekali tentang tanaman tebu. Hingga akhirnya hari seminar pun tiba. Setelah presentasi, akhirnya sampai pada sesi tanya jawab dengan dosen penguji dan pembimbing. Ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa saya jawab dan akhirnya disuruh untuk keluar ruangan. Perasaan hati sudah tidak nyaman dan saya menangis diluar ruangan untuk menunggu pengumuman dari dosen. Ketika saya dipanggil untuk masuk, benar saja, saya TIDAK LULUS pada SEMINAR PROPOSAL ini. Hati saya sangat hancur. Benar-benar hancur pada saat itu. Saya mengingat muka kedua orang tua saya dan dosen-dosen pembimbing saya. Saya sangat malu pada diri sendiri karena tidak bisa memberikan yang terbaik. Sulit rasanya saya untuk bisa bangkit lagi. Tetapi, saya telah memiliki tanggung jawab bahwa penelitian saya adalah project dosen yang kerja sama dengan kantor BUMN di Jawa Timur. Akhirnya, saya niatkan diri ini untuk tetap bangkit lagi dan bimbingan untuk SEMINAR PROPOSAL KE 2 saya. Saya belajar, membaca buku dan jurnal serta bertanya kepada teman dan orang-orang yang lebih paham tentang tebu. Sampai pada bulan Oktober, saya melaksanakan seminar proposal ke 2.

Hari-hari pengamatan saya habiskan selama 6 bulan. Bukan waktu yang sebentar untuk hanya sekedar pengamatan. Mengingat tanaman saya adalah tanaman tebu, jadi pengamatan dilakukan setiap bulan untuk melihat pertumbuhan pada fase vegetatif tanaman. Saya mulai melakukan pengamatan pada bulan November 2019 hingga target selesai pengamatan pada bulan Mei 2020. 

Namun, sayang sungguh sayang. Kejadian buruk dialami oleh seluruh dunia. Pada bulan Desember 2019 di Kota Wuhan, ada sebuah virus yang menjangkit warga yang bernama Corona. Ada kata "Novel" pada kata depannya dimana dapat diartikan bahwa virus ini adalah virus baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Tidak butuh waktu lama, pada bulan Maret 2020, virus ini sudah sampai ke Indonesia. Pada bulan ini juga pemerintah memutuskan untuk "Lockdown" semua provinsi di Indonesia. Tidak ada kegiatan luar rumah. Interaksi dibatasi. Semua orang disarankan untuk melakukan 3M yaitu mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker agar terhindar dari virus ganas ini. Karena pandemi covid, saya memutuskan untuk pulang ke rumah dan meninggalkan sementara pengamatan saya. Sejujurnya, selama saya di rumah, saya merasa tidak tenang karena meninggalkan penelitian saya yang sedang di tengah jalan. Sampai akhirnya, pada bulan Juni saya memberanikan diri untuk kembali ke Jawa Timur untuk menyelesaikan penelitian saya. Perjalanan saya untuk bisa balik ke tanah rantau juga bukan suatu hal yang mudah. Saya telah memesan tiket pesawat namun tidak ada pesawat yang beroperasi dikarenakan pandemi, sehingga saya memutuskan untuk membeli tiket bis dengan harga double dikarenakan harus jaga jarak (harga tiket bis setara dengan harga satu tiket pesawat harga normal). Sebelumnya juga saya melakukan rapid tes dan harus mengantre sejak jam 5 subuh agar kebagian giliran rapid, karena di tempat saya hanya di dinas kesehatan provinsi yang mengadakan rapid tes sehingga banyak sekali orang yang mengantre dan syarat-syarat rapid tesnya yaitu harus memiliki surat keterangan dari kelurahan dan instansi terkait sehingga tidak semua orang bisa melakukan perjalanan. Bermodalkan surat izin penelitian dari instansi dan surat keterangan dari kelurahan, saya diizinkan untuk rapid dan dapat melakukan perjalanan keluar pulau. 

Saya niatkan pada bulan Juni ini untuk menyelesaikan pengamatan saya hingga lulus, baru saya balik lagi untuk pulang ke rumah. PANTANG PULANG SEBELUM LULUS adalah tekad saya untuk menyelesaikan tesis secepat-cepatnya. Hingga akhirnya pada bulan November 2020, saya diizinkan untuk seminar hasil. Mulai dari seminar hasil dilakukan saat pandemi corona sehingga dilakukan tanpa tatap muka (melalui daring). Saya sangat gugup dan takut pada saat itu dikarenakan saat itulah pertama kali saya bertatap muka dengan dosen-dosen saya lagi setelah berbulan-bulan bimbingan hanya lewat chat maupun telfon. Syukur alhamdulillah saya panjatkan karena seminar hasil saya berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Setelah itu saya tinggal revisi dan mempersiapkan untuk ujian komprehensif. 

Ujian lainnya ternyata datang setelah seminar hasil, karena kebijakan terbaru dari fakultas bahwa masing-masing mahasiswa harus telah memiliki surat keterangan diterimanya jurnal penelitian. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dapat memiliki surat tersebut. Akhirnya saya mengurus persyaratan tersebut dan sampailah saya pada bulan Januari tahun 2021 untuk melakukan ujian komprehensif. Pada hari itu juga saya seperti disambar petir untuk kedua kalinya. Setelah sebelumnya saya pernah gagal pada ujian proposal tesis, PADA HARI ITU UJIAN KOMPREHENSIF SAYA DIBATALKAN. Tangisan saya pecah saat dosen memutuskan untuk menunda ujian saya dikarenakan beberapa hal teknis dan ada beberapa dari penelitian saya yang dirasa kurang tepat. SAYA MERASA SANGAT SULIT SEKALI UNTUK BANGKIT PADA SAAT ITU. SULIT. SANGAT SULIT. Saya berkali-kali menyalahkan diri saya dan berkali-kali juga bertanya kepada Sang Pencipta tentang kejadian dari kegagalan tesis saya yang bertubi-tubi ini. Saya melihat teman-teman saya, penelitian mereka sangat lancar seperti tidak ada hambatan, sedangkan saya berkali-kali jatuh dan membuat malu orang tua dan dosen-dosen pembimbing saya. Saya sempat berada pada titik tidak mau ibadah lagi karena doa-doa saya tidak dikabulkan. Tetapi, lambat laun saya menyadari bahwa semakin kita diberikan ujian oleh Yang Maha Kuasa berarti Tuhan sayang pada kita dan ingin melihat usaha kita lebih keras lagi. Pada akhirnya, saya bimbingan lagi pada dosen-dosen pembimbing dan penguji saya untuk mempersiapkan ujian komprehensif saya yang sempat ditunda. 

Pada tanggal 3 Maret 2021, saya akhirnya melaksanakan ujian komprehensif tesis saya sebagai syarat kelulusan program magister. Pada pukul 15.00 akhirnya saya mendapat pengumuman dari dosen bahwa saya dinyatakan LULUS!!! Tak terhingga bahagianya dan terharunya saya pada saat itu. Akhirnya lika-liku penelitian saya terbayarkan sudah sejak dosen mengumumkan bahwa saya lulus. Tidak banyak revisi yang diberikan dosen untuk saya sehingga lebih kurang satu minggu saya revisi dan mulai untuk mendaftar yudisium. Karena yudisium dapat dilakukan secara daring, saya memutuskan untuk pulang setelah mendaftar yudisium. Saya memutuskan untuk pulang kembali ke rumah saya di Lampung dan meninggalkan Malang yang selama lebih kurang 7 tahun ini saya tempati untuk menuntut ilmu. Selama ini, bukan hanya ilmu pertanian yang saya dapatkan melainkan juga pelajaran hidup yang diajarkan alam semesta kepada saya melalui teman, lingkungan, dosen dan orang-orang lain yang saya temui selama di Malang. Meninggalkan kota Malang tidak mudah apalagi setalah bertahun-tahun saya tempati tanpa sanak keluarga satu pun. Di kota ini juga saya belajar tentang arti kemandirian, kerja keras dan pantang menyerah. 

Akhirnya pada bulan April 2021, saya melakukan yudisium dan telah dinyatakan lulus oleh fakultas. Akhirnya dan akhirnya. Kerja keras dan pantang menyerah yang saya alami selama ini terbayarkan pada hari itu. Saat ini saya sedang menunggu waktu wisuda dan sedang melamar pekerjaan. Semoga secepatnya saya dapat mendapatkan pekerjaan. AMIN YA ROBBAL ALAMIN.

Saya ingin menyampaikan untuk kalian yang mungkin saat ini sedang berada pada fase-fase sulit, merasa gagal dan merasa lelah dengan apa yang sedang dijalani sekarang, ingatlah bahwa "tangan Tuhan tidak pernah melepasmu". Selalu berprasangka baik pada Tuhan, karena rencanaNya adalah rencana terbaik untuk kita walaupun terkadang kita tidak menyadarinya. 

Saya cukupkan cerita perjalanan tesis saya sampai disini. Semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya dari carita saya kali ini.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nadya Muliandari

Bagaimana Sebuah Karya Dapat Mempengaruhi Seseorang