What Do I Think about to be a Teacher
Okay well, hello blogger. Maaf ya udah lama kita gak ketemu. Alhamdulillah saya sedang disibukkan dengan tugas akhir saya (dan beberapa kemalasan buat nulis). Saya mohon untuk dapat dimaklumi dengan alasan malas itu adalah sifat alami manusia.
Back to the topic "What Do I Think about to be a Teacher". Apa yang saya fikirkan tentang menjadi seorang pendidik. Pertama, mengapa saya ingin menulis artikel ini dengan judul tersebut adalah karena menurut saya ini sangat penting. Seorang pendidik bukan hanya bertugas sebagai pemberi ilmu dan nasihat-nasihat saja, bahkan lebih jauh dari itu yaitu tingkah laku maupun attitude-nya menjadi panutan untuk didikannya. Sama halnya seperti orang tua. Seorang anak memiliki kepribadian sangat tergantung dari bagaimana orang tua membentuk kepribadian anaknya. Bukan sembarang orang dapat menjadi pendidik. Bukan hanya terlepas tentang "saya ingin mendapatkan uang untuk kehidupan saya dan keluarga saya dari menjadi seorang pendidik". Menurut saya bukan sebatas itu. Seorang PENDIDIK DIBENTUK untuk MEMBENTUK SESEORANG yang kelak akan menjadi panutan dimasa depannya. Mungkin dia akan jadi pilot, dokter, atau bahkan presiden. Yang kedua alasan saya mengapa menulis topik ini adalah karena hari ini saya ditanya oleh orang tua saya tentang rencana saya kedepannya setelah lulus kuliah. Sebenarnya saya belum ada rencana yang matang. Yang pertama ada dalam benak saya yaitu INGIN BEKERJA. Saya ingin memiliki tabungan saya sendiri untuk kehidupan saya yang akan datang. Dengan bekerja, saya dapat menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang saya punya untuk hidup saya selanjutnya. Tetapi, orang tua saya menyuruh saya untuk melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa lagi. Melanjutkan studi magister "S2". Seketika muncul beberapa penolakan dalam diri saya yaitu yang pertama adalah saya sudah capek dengan kuliah. Menurut saya kuliah ini menghabiskan separuh masa produktif saya untuk belajar. Bukannya saya tidak senang untuk kuliah, tetapi pada umur saya yang 20 tahun, orang-orang diluar sana yang sama umurnya seperti saya sudah sangat sukses. Baik itu menjadi artis, wirausahawan, ataupun lainnya. Sedangkan saya disini hanya sebagai seorang mahasiswa yang mengejar-ngejar tandatangan dosen untuk mendapatkan gelar sarjana. Saya menyadari dengan umur saya yang sama seperti mereka, saya sudah sangat tertinggal dalam hal kesuksesan. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa lulusan sarjana juga mungkin dapat sesukses mereka. Yang kedua adalah saya bukan tipe orang yang suka dengan kehidupan monoton. Saya butuh orang-orang baru dalam hidup saya. Saya sangat senang bertukar pikiran dengan orang yang lebih tua. Dengan seperti itu menurut saya dapat membuka pikiran saya melalui pengalaman-pengalaman hidup mereka. Dengan rencana melanjutkan studi magister, menurut saya kehidupan saya akan monoton. Tetap bersama tugas-tugas kuliah, meminta tandatangan dosen, dsb. Saya ingin hidup saya yang tidak membosankan seperti itu. Ketiga, saya adalah seorang wanita. Bukankah suatu keanehan kalau saya memiliki gelar yang lebih tinggi daripada suami saya kelak? Menurut saya pria sangat menjaga jarak dari wanita yang melebihinya, baik itu gelarnya, status sosialnya ataupun lainnya. Apakah dengan saya melanjutkan studi magister tidak menimbulkan salah satu dari kesenjangan sosial tersebut?
Tetapi dengan penawaran tersebut saya sangat merasa beruntung karena tidak semua orang dapat ditawarkan memiliki kesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Apapun rencana kedepannya kelak, semoga apapun yang terjadi dalam hidup saya dapat berguna dan memberi manfaat untuk orang lain.
Back to the topic "What Do I Think about to be a Teacher". Apa yang saya fikirkan tentang menjadi seorang pendidik. Pertama, mengapa saya ingin menulis artikel ini dengan judul tersebut adalah karena menurut saya ini sangat penting. Seorang pendidik bukan hanya bertugas sebagai pemberi ilmu dan nasihat-nasihat saja, bahkan lebih jauh dari itu yaitu tingkah laku maupun attitude-nya menjadi panutan untuk didikannya. Sama halnya seperti orang tua. Seorang anak memiliki kepribadian sangat tergantung dari bagaimana orang tua membentuk kepribadian anaknya. Bukan sembarang orang dapat menjadi pendidik. Bukan hanya terlepas tentang "saya ingin mendapatkan uang untuk kehidupan saya dan keluarga saya dari menjadi seorang pendidik". Menurut saya bukan sebatas itu. Seorang PENDIDIK DIBENTUK untuk MEMBENTUK SESEORANG yang kelak akan menjadi panutan dimasa depannya. Mungkin dia akan jadi pilot, dokter, atau bahkan presiden. Yang kedua alasan saya mengapa menulis topik ini adalah karena hari ini saya ditanya oleh orang tua saya tentang rencana saya kedepannya setelah lulus kuliah. Sebenarnya saya belum ada rencana yang matang. Yang pertama ada dalam benak saya yaitu INGIN BEKERJA. Saya ingin memiliki tabungan saya sendiri untuk kehidupan saya yang akan datang. Dengan bekerja, saya dapat menyisihkan sedikit demi sedikit uang yang saya punya untuk hidup saya selanjutnya. Tetapi, orang tua saya menyuruh saya untuk melanjutkan studi saya menjadi seorang mahasiswa lagi. Melanjutkan studi magister "S2". Seketika muncul beberapa penolakan dalam diri saya yaitu yang pertama adalah saya sudah capek dengan kuliah. Menurut saya kuliah ini menghabiskan separuh masa produktif saya untuk belajar. Bukannya saya tidak senang untuk kuliah, tetapi pada umur saya yang 20 tahun, orang-orang diluar sana yang sama umurnya seperti saya sudah sangat sukses. Baik itu menjadi artis, wirausahawan, ataupun lainnya. Sedangkan saya disini hanya sebagai seorang mahasiswa yang mengejar-ngejar tandatangan dosen untuk mendapatkan gelar sarjana. Saya menyadari dengan umur saya yang sama seperti mereka, saya sudah sangat tertinggal dalam hal kesuksesan. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa lulusan sarjana juga mungkin dapat sesukses mereka. Yang kedua adalah saya bukan tipe orang yang suka dengan kehidupan monoton. Saya butuh orang-orang baru dalam hidup saya. Saya sangat senang bertukar pikiran dengan orang yang lebih tua. Dengan seperti itu menurut saya dapat membuka pikiran saya melalui pengalaman-pengalaman hidup mereka. Dengan rencana melanjutkan studi magister, menurut saya kehidupan saya akan monoton. Tetap bersama tugas-tugas kuliah, meminta tandatangan dosen, dsb. Saya ingin hidup saya yang tidak membosankan seperti itu. Ketiga, saya adalah seorang wanita. Bukankah suatu keanehan kalau saya memiliki gelar yang lebih tinggi daripada suami saya kelak? Menurut saya pria sangat menjaga jarak dari wanita yang melebihinya, baik itu gelarnya, status sosialnya ataupun lainnya. Apakah dengan saya melanjutkan studi magister tidak menimbulkan salah satu dari kesenjangan sosial tersebut?
Tetapi dengan penawaran tersebut saya sangat merasa beruntung karena tidak semua orang dapat ditawarkan memiliki kesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Apapun rencana kedepannya kelak, semoga apapun yang terjadi dalam hidup saya dapat berguna dan memberi manfaat untuk orang lain.

Komentar
Posting Komentar