Menjadi Peneliti
Pada postingan ini saya ingin berbagi pengalaman tentang SKRIPSI saya. Menurut saya tidak ada salahnya bercerita dan berbagi pengalaman kepada orang lain.
Awal cerita saya awali dengan tema yang saya angkat pada skripsi saya. Saya mengangkat tema yang pastinya tanaman dan berhubungan dengan sumber daya yang ada (dikarenakan saya adalah seorang mahasiswa pertanian). Tanaman yang saya angkat dalam skripsi saya yaitu tanaman "EDAMAME". Mungkin tanaman ini masih asing ditelinga orang Indonesia, tetapi tidak untuk masyarakat Jepang sepertinya. Tanaman ini memang sering digunakan sebagai kudapan oleh masyarakat Jepang. Selain tanaman edamame, yang saya angkat selanjutnya dalam skripsi saya yaitu pupuk kandang dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Keterkaitan kedua bahan tersebut (pupuk kandang dan pgpr) dalam menyuburkan tanaman dan tanah menjadi daya tarik saya untuk mengambil tema ini.
Dalam skripsi mahasiswa pertanian, masing-masing mahasiswa wajib melakukan penelitian mereka masing-masing dengan tema dan topik sendiri. Pada masa awal saya memutuskan untuk memulai penelitian, saya menemukan banyak sekali kendala-kendala yang pada akhirnya mengajarkan saya satu hal yaitu SABAR. Dengan kesabaran dan keyakinan penuh semuanya akan terlewati.
Kendala pertama yang saya temui adalah pada awalnya, sebenarnya saya ingin mengangkat tema tanaman buncis tegak. Tetapi karena satu dan lain hal akhirnya buncis tegak tidak jadi saya angkat untuk tema skripsi saya. Selanjutnya, dosen saya menganjurkan saya untuk mengambil tema tanaman singkong. Tanaman ini cukup menarik karena daerah asal saya banyak menanam tanaman ini. Tetapi mengingat parameter tanaman singkong yang cukup banyak untuk diteliti, akhirnya saya urungkan niat tersebut. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tema tanaman edamame dan kedua dosen saya setuju. Butuh waktu kurang lebih sebulan untuk saya menyelesaikan proposal dan melaksanakan seminar proposal. Sampai pada akhirnya saya menemukan kendala selanjutnya.
Kendala kedua yang saya temui pada penelitian saya yaitu BENIH. Pada mulanya saya mendapatkan benih edamame dari toko online. Saya telah memesan 2 kg benih dengan masing-masing kg berisi kurang lebih 2500 butir (sebenarnya saya hanya butuh kurang lebih 1800 butir). Tetapi saya memutuskan untuk membeli lebih benih tersebut sebagai cadangan. Dua hari sebelum penanaman, saya rendam benih-benih tersebut dalam air yang dicampur konsentrasi PGPR. Ketika hari penanaman tiba, saya mendapati benih saya BUSUK SEMUA. Pada hari ini saya dibuat down. Saya benar-benar stres dan tidak tahu harus bagaimana. Saya memutuskan pada hari itu juga untuk ke Jember karena disana terdapat perusahaan yang menjual edamame. Saya saat itu juga menghubungi teman-teman saya untuk menemani saya ke Jember. Tetapi mengingat perjalanan dari Malang ke Jember yang lumayan memakan waktu, akhirnya teman-teman saya berinisiatif untuk berangkat besok subuh. Saya beranikan diri saya untuk menyewa mobil pada esok hari dan teman-teman saya yang mengendarainya. Saya sangat berterimakasih yang tak terkira kepada keempat teman saya yang sudah siap sedia untuk berangkat ke Jember dan membawa mobil sampai sana (kami berlima semuanya wanita). Sampai Jember, ketika kami sampai di perusahaan tersebut, setelah bernegosiasi dengan salah satu pegawai perusahaan tersebut, mereka akhirnya tidak mengizinkan saya untuk membeli benih edamame mereka, tetapi saya dapat menggunakan benih edamame yang mereka keluarkan apabila saya melakukan penelitian di lahan perusahaan tersebut dengan jaminan biaya produksi, benih, tenaga kerja, dll dibiayai oleh perusahaan tersebut. Seketika saya dibuat dilema oleh penawaran tersebut. Tetapi yang menjadi beban adalah penelitian saya, lahannya sudah siap dan mengingat penelitian saya ini adalah proyek dosen. Akhirnya saya diberi waktu untuk mempertimbangkannya dan saya putuskan untuk konsultasi pada dosen saya. Sampai pada akhirnya dosen saya untuk menyuruh saya mencoba menanam benih yang saya masih punya dan ditanam pada lahan tersebut lagi. Pada saat saya di perusahaan tersebut saya ceritakan kendala penelitian saya dan pihak perusahaan memberikan solusi bahwa benih tanaman edamame memang tidak seharusnya untuk direndam. Selanjutnya saya mencoba untuk menanam benih ini untuk kedua kalinya pada lahan yang sama tanpa perendaman. Dua minggu berselang, alhamdulillah tanaman edamame saya berangsur-angsur tumbuh dengan baik.
Selanjutnya, kendala yang saya hadapi yaitu fakta bahwa biaya penelitian saya tidak ditanggung sepenuhnya oleh dosen. Memang pada awalnya kesepakatan kami sebagai mahasiswa dan dosen pembimbing kami bahwa sewa lahan dan analisa lab akan ditanggung sepenuhnya oleh dosen (karena penelitian saya termasuk kedalam proyek dosen). Setelah dihitung-hitung dan kesepakatan bersama kami, dikarenakan biaya dosen memang tidak banyak maka yang ditanggung hanyalah sewa lahan, untuk biaya analisa akhir lab kami tidaj ditanggung. Namun demikian saya sudah sangat bersyukur karena biaya penelitian saya dapat ditekan oleh biaya sewa lahan yang dibayarkan oleh dosen.
Setelah perjalanan edamame saya yang cukup panjang, akhirnya pada tanggal 1 Juni 2017 tanaman saya panen. Tidak terkira betapa bahagianya saya panen tanaman saya sendiri setelah berliku-liku kendala yang saya hadapi. Ada banyak lagi kendala-kendala lain seperti pupuk, pengamatan mingguan, dll yang tidak saya sebutkan karena menurut saya cukup tiga hal diatas yang membuat saya hampir stres walaupun pada akhirnya dapat teratasi semua dengan baik. Tiga foto diatas adalah hasil panen saya yaitu foto tanaman, polong dan biji tanaman edamame.
Untuk saat ini saya masih mengerjakan data penelitian saya. Saya juga sedang mengusahakan untuk dapat lulus pada tahun 2017 ini. Semoga usaha saya akan terwujud pada tahun ini. Saya sangat meminta doa-doa para pembaca blog saya untuk diberi kelancaran dalam menyelesaikan skripsi saya.



Komentar
Posting Komentar