Merantau : Bukan tentang "Siapa yang Lebih Mampu"


Dalam tulisan saya kali ini saya bukan ingin menceritakan bagaimana kehidupan seorang perantau yang notabene banyak menceritakan kehidupan yang "nelongso" atau biasa kita sebut dengan "sengsara". Tetapi yang ingin saya ceritakan kali ini adalah tentang bagaimana seorang perantau "berangkat" menjadi seorang perantau.

Seperti perkataan orang-orang terdahulu yang mengatakan "hidup itu tidak mudah". Ya. Ternyata ungkapan itu memang benar. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan memang tidak ada jalan yang instan dan mudah. Semua perlu ada yang dikorbankan. Salah satunya adalah KELUARGA. Setiap kita pasti menginginkan tinggal dan berkumpul bersama keluarga, dari buka mata hingga tutup mata. Tetapi sebenarnya dibalik keinginan kita tersebut, ada suatu penghalang yang mungkin saja dapat menghalangi diri kita untuk menjadi lebih mandiri. Menurut saya, semakin kita jauh dari keluarga, semakin kita berusaha untuk memperbaiki diri untuk kemudian suatu hari kembali kepada mereka (red: keluarga) sebagai seorang yang lebih baik lagi. 

Baiklah, saya akan beropini sekaligus bercerita melalui tulisan ini. Kembali lagi kejudul tulisan saya, banyak orang saat ini menyalah artikan tentang "merantau". Jika orang tua-orang tua kita dulu memiliki niat merantau untuk menuntut ilmu yang lebih baik, namun sekarang pengertian itu saya rasa agak sedikit bergeser kepada hal yang berbau dengan materi. Biarkan saya bertanya, apakah seorang perantau harus memiliki "banyak uang" untuk merantau dan menjamin kehidupannya di tanah rantaunya? Menurut saya jawaban yang cocok untuk pertanyaan ini adalah - tidak selalu. Banyak cerita bahwa materi tidak menjamin kesenangan dan ketentraman hidup, apalagi kehidupan perantau. Satu hal yang paling penting untuk dimiliki seseorang yang ingin berjuang ditanah rantau adalah TEKAD. Dengan tekad yang kuat, kehidupan perantau akan jauh lebih terjamin dibandingkan dengan materi. 

Cerita saya ini merupakan cerita teman-teman saya sesama perantau. Saya yang hampir genap empat tahun tinggal di tanah rantau ini memiliki teman yang hampir seluruhnya juga perantau. Banyak fenomena-fenomena unik yang dapat saya ambil menjadi pelajaran dari teman-teman saya.

Pertama, bagaimana perasaan anda apabila anda sedang menuntut ilmu, jauh dari keluarga dan tiba-tiba salah satu anggota keluarga anda dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Bisakah anda membayangkannya? Itu yang dirasakan oleh beberapa teman-teman saya. Ketika orang tua mereka diberikan tugas untuk menghadap Tuhan Yang Maha Segalanya. Untuk pertama kalinya, penyesalan yang terbersit dibenak mereka adalah "kenapa mereka tidak dapat berada disebelah orang tuanya ketika nyawa beliau hanya tinggal ditenggorokan?" Kemudian pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mungkin terlintas dibenak mereka adalah "mengapa Tuhan cabut nyawa orang tua mereka sebelum mereka wisuda?" dan "bagaimana kondisi perkuliahan mereka setelah orang tuanya telah tiada? siapa yang akan mendukung keuangan keluarga mereka nantinya". Kesalahan seorang manusia jika terlintas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah "mengapa anda terlalu khawatir dan takut, padahal kita masih memiliki Tuhan yang punya segalanya?" Tugas kita sebagai manusia adalah  berusaha semampu kita. Tuhan tidak tidur dan pasti melihat usaha kita.

Kedua, bagaimana perasaan anda apabila harus sakit yang jauh dari keluarga? Tidak perlu dibayangkan bagaimana rindunya perhatian ibu kita mengurus seorang anaknya apabila sedang sakit, karena memang itu yang pertama kali terlintas dibenak anda. Mungkin saja anda bisa berkeluh kesah kepada beliau dengan menelpon dan memberi tahu keadaan anda, tetapi yang perlu diingat, mereka tidak bisa memberikan suapan ke mulut anda atau membuatkan teh hangat untuk anda. Yang perlu anda lakukan adalah pergi ke dokter dengan teman anda dan minum obatnya tanpa disuruh, karena hanya memang anda yang ingin diri anda sembuh dan sehat.

Ketiga, bagaimana sikap anda dalam bertoleransi terhadap orang lain. Ini sangat dibutuhkan terlebih jika anda tinggal satu atap bersama orang lain yang tidak pernah anda kenal sebelumnya. Prinsip "jangan memukul jika tidak mau dipukul" harus anda tanamkan dalam-dalam. Jangan mencampuri urusan orang lain apabila urusan anda juga tidak mau diganggu.

Keempat, bagaimana perasaan anda jika tidak memiliki uang? Untuk kasus ini, jawaban yang tepat adalah manajemen keuangan yang baik. Ada banyak cara untuk dapat berhemat, seperti contohnya dengan mengurangi kebutuhan yang tidak terlalu penting.

Kelima, yaitu sebagai seorang perantau anda dituntut untuk mengambil keputusan anda sendiri dengan cepat dan tepat. Anda dituntut untuk lebih sigap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dan siap menghadapi resiko yang akan datang.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nadya Muliandari

Bagaimana Sebuah Karya Dapat Mempengaruhi Seseorang

Penelitian di Tengah Pandemi