Kilas Balik 2017

Pada hari ini 14 Januari 2018, saya berniat untuk menuliskan kilas balik saya (perjalanan) yang telah dilewati pada tahun sebelum ini (tepatnya tahun 2017). Ditahun 2017 banyak sekali up and down yang saya lewati. Pembelajaran yang sangat berharga untuk saya, khususnya karena penelitian yang saya lakukan pada tahun 2017 ini. Saya lebih banyak mengenal orang-orang baru, memahami arti pertemanan, perpisahan dan rencana-rencana kedepan. Saya juga mencoba lebih menghargai terhadap berbagai keputusan yang orang lain ambil dan masih terus belajar untuk dapat mengendalikan ego saya. Karena menurut saya, setiap keputusan yang tiap-tiap orang ambil merupakan suatu pertimbangan yang sudah sangat matang dan tugas saya hanya cukup menghargai akan keputusan-keputusan tersebut. Saya tahu jika tulisan ini mungkin sedikit telat, tetapi menurut saya tidak ada salahnya daripada tidak menuliskannya sama sekali. 

Saya mulai pada awal tahun 2017 yang lalu, tepatnya bulan Januari. Saya memutuskan kontrak kerja saya sebagai pengajar privat disalah satu bimbingan belajar yang ada di Malang. Ada alasan tersendiri mengapa saya memilih untuk mengakhiri kontrak mengajar saya sebagai guru bahasa Inggris yaitu saya sedang mengerjakan tugas akhir. Saya tahu mungkin beberapa orang menganggap jika sedang mengerjakan skripsi tentu saja lebih banyak waktu luang yang tidak terpakai, tetapi menurut saya, jika kamu seorang mahasiswa pertanian yang harus setiap hari pergi ke lahan maka teori tersebut saya rasa kurang relevan (karena kerja bertani membutuhkan banyak waktu, tenaga dan fikiran). 

Selanjutnya saya lanjutkan pada bulan Februari, yang dimana saya mulai melakukan penelitian saya dengan pengolahan tanah dan pemupukan dasar. Penanaman benih saya rencanakan pada bulan Maret dikarenakan setelah pemberian pupuk dasar kotoran ternak, tanah harus didiamkan beberapa hari untuk pupuk dapat terdekomposisi dengan baik dengan tanah.

Bulan Maret saya mulai untuk menanam benih edamame. Dibulan ini merupakan saat-saat yang paling membuat mood saya naik turun. Dibulan inilah ketika saya mengetahui bahwa benih saya tidak tumbuh. Usut punya usut, ternyata teknik dalam perlakuan penelitian saya ada yang salah, maka dari itu benih tidak dapat tumbuh dengan maksimal.

Bulan-bulan berikutnya saya isi waktu saya dengan menyelesaikan penelitian saya. Sampai pada bulan September saya akhirnya seminar hasil penelitian. Antara siap dan tidak siap. Antara senang dan takut. Semuanya menjadi satu kesatuan yang harus saya lewati. Sampai pada akhirnya, bulan Oktober 2017 saya ujian komprehansif.

Pada bulan Oktober, dimana saya harus mampu mempertanggung jawabkan hasil penelitian saya setelah sekian lama. Saya banyak bertanya kepada teman-teman dan kakak tingkat saya mengenai tipikal dosen-dosen penguji saya. Jujur, jawaban mereka antara membuat saya senang dan tegang. Saya mempersiapkan segala macam amunisi saya untuk tempur pada ujian kompre tersebut. Karena ketakutan saya yang teramat sangat, saya memutuskan untuk membuat catatan dalam bentuk buku sebagai bahan saya untuk belajar. Lebih kurang tiga minggu saya pelajari catatan tersebut. Hingga pada hari H saya ujian. Saya gugup, takut, senang dan was-was ketika memasuki ruang ujian. Pertanyaan-pertanyaan dosen saya jawab semampu saya meskipun ada beberapa jawaban yang kurang meyakinkan hati dosen dan kurang benar. Yang terpenting menurut saya saat itu adalah seluruh pertanyaan dosen harus saya jawab. Pukul 14.45 pengumuman ujian saya diumumkan. Dengan puji syukur dan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa akhirnya saya lulus dari ujian tersebut. 

Yudisium pada bulan November mengantar saya pada gelar pertanian yang saya nanti-nantikan sejak empat tahun yang lalu. Pada bulan November, segala macam keluh kesah seakan hilang dan berganti menjadi suka cita. Satu beban di pundak saya seperti lenyap ditelan senyuman dan rasa bahagia saya. 

Seketika saya bertanya kepada diri saya "Setelah Ini Apa?"

Sejak setelah ujian kompre saya sudah mencoba untuk ikut jobfair di berbagai tempat di Malang. Saya mencoba peruntungan untuk mendapatkan pekerjaan. Mungkin Tuhan Yang Maha Punya Segalanya belum mengizinkan saya bekerja. Tetapi, saya merupakan orang yang tidak bisa diam. Saya belum puas jika sesuatu belum saya dapatkan. Hingga sampai saat ini saya mencoba untuk mencari pekerjaan. Lain lagi dengan keputusan kedua orang tua saya. Mereka menginginkan anak sulungnya ini untuk melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi lagi. 

Satu hal yang saya yakini, Tuhan telah memiliki rencana baiknya sendiri untuk umat-umatnya. Tidak ada rencana buruk yang Tuhan berikan. Segalanya memiliki jalannya masing-masing. 

Bagaimana dengan kalian? Apa kilas balik tahun lalu dan rencana kalian tahun ini? Feel free to share in the comment box below :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nadya Muliandari

Bagaimana Sebuah Karya Dapat Mempengaruhi Seseorang

Penelitian di Tengah Pandemi