Semakin Berisi Semakin Merunduk



Halo teman-teman pembaca. Bagaimana kabar kalian? Semoga kita semua selalu diberkahi limpahan karuniaNya. Amin. 

Sebagai pembuka tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah membaca tulisan saya sebelumnya. Karena doa dari kalian, saya sekarang telah diterima kerja disalah satu perusahaan media cetak sebagai jurnalis. Saya merasa sangat senang karena bisa menyalurkan hobi sekaligus sejalan dengan latar belakang saya sebagai lulusan fakultas pertanian. Meskipun saya baru bekerja disini, saya telah bertemu orang-orang hebat. Kali ini saya ingin bercerita pengalaman saya wawancara dengan beberapa orang, meskipun hanya secara daring. 

Saya beropini bahwa semakin orang berilmu, maka semakin bijaklah sifatnya. Saya meyakini hal tersebut. Hal ini saya utarakan setelah saya mewawancarai dua orang hebat yang saya temui untuk bahan artikel saya. Baiklah, akan saya perkenalkan tanpa menyebut nama untuk menjaga privasi. Beliau berdua adalah peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Sebenarnya saat saya kuliah, saya ingin suatu hari bisa bekerja disini. Tapi apa daya, kemampuan masih minimalis. Memimpikan menjadi peneliti sepertinya suatu khayalan saya yang agak ketinggian, mengingat nilai kuliah saya yang tidak terlalu bagus (untuk lulus S2 saja saya butuh 3,2 tahun). Tapi tak mengapa, selagi mimpi tidak perlu bayar apa salahnya saya memimpikan hal yang tinggi. Kembali kewawancara tadi, saya sangat senang bisa wawancara dengan peneliti-peneliti TOP Indonesia. Meskipun latar belakang mereka dari biologi, namun kekhususan penelitian mereka menyangkut hewan kecil yang sangat bermanfaat bagi bidang pertanian. Saya tidak akan menjelaskan tentang hewan itu, melainkan sikap kedua profesor tersebut yang membuat saya segan sekaligus bahagia. Salah seorang pepatah mengatakan "Jadilah seseorang yang memiliki ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk". Hal ini saya dapat lihat dari sikap mereka kepada saya. Tidak ada kesombongan dan keangkuhan dari mereka. Saya, hanya seorang jurnalis yang ngomong saja masih belepotan dan sangat gugup pada saat itu, tidak diremehkan sama sekali. Karena sadar pengetahuan saya mengenai tema wawancara tersebut sangat NOL, sebelum wawancara saya putuskan untuk riset kecil-kecilan melalui internet baik tentang latar belakang narasumber maupun tema yang saya angkat. Selain itu saya juga baca sekilas tentang riwayat penelitian yang pernah mereka lakukan. Pada saat wawancara berlangsung, tidak ada sedikitpun kata-kata mereka yang terkesan menggurui saya. Mereka menjelaskan dengan tenang dan bahagia. Saya pun ikut bahagia melemparkan pertanyaan demi pertanyaan kepada mereka. Hingga tidak terasa telah satu jam saya lakukan wawancara dengan mereka. Yang lebih membuat saya terkagum-kagum adalah ada dua orang yang tidak saya kenal dan tidak saya undang, mengikuti wawancara saya tersebut. Mereka berdua sepertinya mahasiswa dari kedua profesor ini. Sepertinya, profesor-profesor ini membagikan link meeting yang saya kirimkan kepada mahasiswa-mahasiswanya. Sungguh saya merasa sangat kecil. Saya merasa bukan apa-apa tapi mereka begitu antusias sampai menyuruh mahasiswanya menonton wawancara kami. Sungguh saya sangat bahagia, Prof. Terima kasih banyak. 

Sejak wawancara itu saya bisa belajar banyak hal bahwa jangan pernah merasa sombong dengan apapun yang kita miliki. Rasa sombong hanya membawa kita menjadi pribadi yang merugi suatu hari nanti. 

Ujung curhatan saya cukupkan sampai disini. Sepertinya tulisan kali ini tidak begitu panjang, namun semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya. 









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nadya Muliandari

Bagaimana Sebuah Karya Dapat Mempengaruhi Seseorang

Penelitian di Tengah Pandemi